Cari Di Blog Ini :

Tuesday, February 25, 2014

Sejarah Terbentuknya Danau Kelimutu (Legenda Masyarakat Lio-Flores)

KEPERCAYAAN MASYARAKAT LIO TENTANG SEJARAH TERBENTUKNYA DANAU KELIMUTU


Kehidupan manusia memang tidak terlepas dari lingkungan tempat hidupnya. Interaksi manusia,  lingkungan serta zat ilahi, melahirkan pola-pola kebudayaan yang berpadu dengan kepercayaan tradisional yang mengakar pada sendi-sendi kehidupan masyarakat lokal. Demikian pula, pada masyarakat Lio (salah satu suku di pedalaman pulau Flores) khususnya yang bermukim di sekitar gunung Kelimutu (gunung berapi tidak aktif) yang memiliki tiga buah danau dengan kekhasan warna masing-masing yang senantiasa berubah-ubah pada periode waktu tertentu atau oleh sebab tertentu. Ketiga danau tersebut, yaitu Tiwu Ata Bupu, Tiwu Ko’ofai Nuwamuri, dan Tiwu Ata Polo. Dari sisi sejarah vulkanis dan geologis, memang harus dibuktikan sejarah terbentuknya ketiga danau yang telah diakui sebagai salah satu keajaiban alam tersebut. Dan untuk yang satu ini, belum banyak hasil penelitian atau data yang pasti tentang terbentuknya ketiga danau tersebut. Berdasarkan keterangan yang diperoleh dari sejumlah sumber, memang pernah terjadi letusan besar di gunung kelimutu tersebut yaitu antara tahun 1860-1870. Namun, apakah memang terbentuk pada waktu itu?. Secara geologis, urutan terbentuknya ketiga danau tersebut dimulai dari Tiwu Ata Mbupu, disusul Tiwu Ata Polo, lalu terakhir Tiwu Ko’ofai Nuwamuri.  Suatu hal yang sangat menakjubkan, yaitu urutan terbentuknya ketiga danau tersebut menurut sejarah geologis ternyata sejalan dengan sejarah kepercayaan (cerita turun temurun) penduduk setempat. Ini dibuktikan pada kisah yang akan diungkap di bawah ini.
Menurut kepercayaan penduduk setempat, manusia itu terdiri atas badan (tebo) dan jiwa (mae). Badan atau tebo akan mati sedangkan jiwa atau mae akan meninggalkan kampung asal dan pergi ke alam baka. Lalu dimanakah alam baka itu menurut kepercayaan tradisional setempat?. Mari kita simak melalui ungkapan-ungkapan yang disampaikan oleh tetua adat apabila seseorang anggota masyarakat mereka meninggal dunia, yaitu :  “Mutu gu, Ia pai ulu du Mutu, bai seda Ia”  yang artinya “Dia sudah dipanggil oleh Mutu (Kelimutu) dan Ia (gunung Ia, dekat kota Ende), kepalanya mengarah ke Mutu dan kakinya menyentuh Ia”.
Penduduk setempat percaya bahwa, apabila yang meninggal itu seseorang yang telah tua maka arwahnya akan ditempatkan di Tiwu (danau) Ata Mbupu (orang tua), dan apabila yang meninggal itu muda-mudi, maka akan ditempatkan di Tiwu Nuwa Muri Ko’o Fai, sedangkan apabila yang meninggal itu orang  jahat, maka arwahnya akan ditempatkan di Tiwu Ata Polo. Itulah alam baka menurut kepercayaan tradisional mereka.
Bagaimanakah kisah awalnya hingga kepercayaan ini bisa lahir dan diwariskan secara turun temurun?
Dikisahkan, pada jaman dahulu kala, di puncak gunung Kelimutu yang disebut Bhua Ria (hutan lebat yang selalu berawan), bermukim Konde Ratu bersama rakyatnya. Di kalangan rakyat kala itu, terdapat dua tokoh yang sangat disegani, yaitu Ata Polo si tukang sihir jahat dan kejam yang suka memangsa manusia, dan Ata Bupu yang dihormati karena sifatnya yang berbelas kasih serta memiliki penangkal sihir Ata Polo. Walaupun memiliki kekuatan gaib yang tinggi dan disegani masyarakat, keduanya berteman baik serta tunduk dan hormat kepada Konde Ratu. Ata Bupu dikenal sebagai petani yang memiliki ladang kecil di pinggir Bhua Ria, sedangkan Ata Polo lebih suka berburu mangsa berupa manusia di seluruh jagat raya.
Pada masa itu, kehidupan di Bhua Ria berlangsung tenang dan tenteram, sampai kedatangan sepasang Ana Kalo (anak yatim piatu) yang meminta perlindungan Ata Bupu karena ditinggal kedua orang  tuanya ke alam baka. Karena sifatnya yang berbelas kasih, permintaan kedua anak yatim  piatu tersebut dikabulkan oleh Ata Bupu namun dengan satu syarat, yaitu mereka harus menuruti nasehatnya untuk tidak meninggalkan areal ladangnya agar tidak dijumpai dan dimangsa oleh Ata Polo.
Pada suatu hari, Ata Polo datang menjenguk Ata Bupu di ladangnya. Setibanya di ladang Ata Bupu, Ata Polo mencium bau menusuk (bau mangsa) dalam pondok Ata Bupu. Segera meleleh air liur Ata Polo yang kemudian hendak mencari mangsanya di dalam pondok tersebut. Niat jahat Ata Polo tersebut diketahui oleh Ata Bupu yang segera menahan langkah Ata Polo sambil menyarankan kepadanya untuk datang kembali kelak setelah anak-anak tersebut sudah dewasa, karena saat ini mereka masih anak-anak, lagi pula dagingnya tentu tidak sedap untuk disantap. Saran ini diterima oleh Ata Polo, yang kemudian pergi meninggalkan Ata Bupu yang sedang kebingungan memikirkan cara terbaik menyelamatkan dua anak manusia tadi.
Ancaman Ata Polo tadi begitu menakutkan bagi kedua anak manusia tersebut, sehingga ketika mereka mulai beranjak remaja atau menjadi Ko’ofai (gadis muda) dan Nuwa Muri (pemuda), mereka memohon izin pada Ata Bupu untuk mencari tempat persembunyian di gua-gua yang ada di luar ladang  Ata Bupu. Mereka akhirnya berhasil menemukan sebuah gua yang terlindung tumbuhan rotan dan akar beringin.
Ketika tiba saatnya, sesuai waktu yang telah disepakati, Ata Polo mendatangi pondok Ata Bupu untuk menagih janji. Namun karena ketika tiba di pondok Ata Bupu, dilihatnya kedua anak tersebut tidak berada di tempat, maka Ata Polo pun marah dan menyerang Ata Bupu dengan ganasnya. Menanggapi serangan Ata Polo yang tidak main-main, Ata Bupu segera membalas serangan itu dengan ilmu andalannya “magi puti” untuk menangkal “magi hitam” Ata Polo. Pada awalnya perkelahian keduanya berjalan seimbang karena keduanya memiliki ilmu yang tinggi dan setingkat. Namun, lama kelamaan tenaga Ata Bupu yang sudah tua kian melemah, sementara gempuran semburan api Ata Polo semakin gencar dan menjadi-jadi. Ata Bupu hanya bisa mengelak dengan gempa bumi. Akibatnya timbul gempa bumi dan kebakaran besar hingga kaki gunung Kelimutu. Ketika merasa tak mampu lagi menandingi kekuatan Ata Polo, Ata Bupu memutuskan untuk raib ke perut bumi. Akibatnya Ata Polo menjadi semakin murka dan menggila. Ketika mencim bau dua remaja yang tengah bersembunyi di dalam gua, Ata Polo pun bertambah beringas. Namun takdir akhirnya menentukan bahwa Ata Polo harus tewas di telan bumi karena sepak terjangnya yang kelewatan. Kedua remaja yang tengah bersembunyi juga turut menjadi korban. Gua tempat persembunyian Ko’ofai dan Nuwa Muri  runtuh akibat gempa dan menguburkan keduanya hidup-hidup.
Beberapa saat setelah kejadian itu, ditempat Ata Bupu raib ke perut bumi, timbul danau berwarna biru. Di tempat Ata Polo tewas ditelan bumi terbentuk danau yang warna airnya merah darah yang selalu bergolak. Sedangkan di tempat persembunyian Ko’ofai dan Nuwa Muri, terbentuk sebuah danau dengan warna air hijau tenang. Ketiga danau berwarna tersebut, masing-masing oleh masyarakat setempat diberi nama sesuai dengan sejarah terbentuknya tadi, yaitu Tiwu Ata Polo (dipercayai sebagai danau tempat berkumpulnya arwah-arwah para tukan tenung atau orang jahat yang meninggal), Tiwu Nuwa Muri Ko’ofai (dipercayai sebagai danau tempat berkumpulnya arwah muda mudi yang meninggal), dan Tiwu Ata Mbupu (dipercayai sebagai danau tempat berkumpulnya arwah-arwah para tetua yang sudah meninggal).
Hingga kini, penduduk sekitar gunung Kelimutu percaya bahwa mereka dapat melakukan kontak dengan arwah orang tua atau leluhur mereka dengan memanggil nama orang tua atau leluhurnya sebanyak tiga kali di depan Tiwu Ata Mbupu. Menurut kepercayaan, setelah pemanggilan dilakukan, biasanya arwah orang tuanya atau leluhur akan datang dan memberikan petunjuk melalui mimpi. Kontak dengan orang tua/leluhur tersebut biasa dilakukan untuk mendapatkan petunjuk apabila terjadi musibah, seperti kehilangan barang atau ternak.
Demikian sekilas kisah sejarah terbentuknya danau Kelimutu yang diwariskan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi lainnya.


Post a Comment